Tetapi jika dikaitkan dengan pelaksanaan sesungguhnya di lapangan, saya juga yakin, nggak setiap yang punya gelar sarjana teknik sipil berkesempatan mengetahuinya secara detail. Bagi yang tahu, biasanya itu karena pernah terjun langsung di proyek dan melihat dengan mata kepala sendiri. Kenapa ? Karena literatur berkaitan dengan hal tersebut, tidak gampang diperoleh ! Apalagi yang berbahasa Indonesia. Kenapa itu bisa terjadi, padahal ahli-ahli pelaksana pondasi tiang bor di Indonesia sudah banyak ?
Kenapa ya ?
Ya maklum, kita mayoritas khan budaya lesan. Jadi menceritakannya secara lesan sudah cukup, ngapain harus dituliskan. Selain ngabisin waktu, juga nggak ada faedahnya.
Benarkah demikian ?
Sebagai engineer yang penulis, tentu saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Menulis juga berarti merenung kembali apa yang diterima hari ini. Bisa-bisa ‘itu’ dapat menjadi suatu kompetensi baru untuk modal dikembangkan lebih lanjut. Dengan menuliskan pula, kita bisa mendapat koreksi dari orang lain, apakah yang kita terima (pahami) sudah benar atau belum. Jadi ada feed-back gitu. Selain itu, bagi pembaca yang belum tahu, tulisan tersebut dapat menjadi pencerahan. Jadi usaha menulis dapat menjadi bantuan yang berharga untuk yang lain (sesamanya).
Sudah-sudah pak. Jangan cerita tentang tulis-menulis. Mana pondasi tiang bornya ?
Baiklah. Pagi tadi saya baru menguji mahasiswa peserta mata kuliah “Kerja Praktek”. Salah satu kelompok telah menceritakan dengan baik hasil kerja-prakteknya yaitu pelaksanaan pondasi tiang bor dan uji beban dari salah satu proyek di daerah Jawa Barat. Cukup menarik untuk diceritakan disini.
Lho ternyata bukan pengalaman Bapak sendiri tho. Cuma hasil kerja praktek mahasiswanya aja. Emangnya menarik pak ?
Eh, jangan ‘cuma’. Meskipun ini hasil mahasiswa, tapi ini khan mahasiswa UPH, hasil bimbingan saya dalam mengerjakannya. Jadi ini juga dapat menjadi feed-back gimana hasil bimbingannya gitu. “Pohon itu khan dilihat dari buahnya !“
Jika dosennya aja, berdasarkan data-data hasil pengumpulan mahasiswa-nya aja bisa bercerita banyak tentang materi yang dilihat selama 15 menit presentasi kerja praktek. Apalagi mahasiswanya sendiri yang telah minimal 130 jam menggeluti di proyek tersebut.
Kerja praktek adalah sarana mahasiswa bersangkutan menangkap fenomena sehari-hari “dunia dimana dia akan bekerja nanti“. Jika pada waktu yang pendek tersebut, dia bisa ngeh (mengerti), dan paham menceritakan pengalamannya. Maka diyakini nanti setelah lulus, mahasiswa yang bersangkutan akan dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan tempat kerjanya. Jadi intinya hasil didikan saya nantinya bisa link-match dengan dunia kerja.
Jadi mata kuliah kerja praktek yang saya bimbing ini tidak sekedar mata kuliah biasa, itu dapat menjadi sarana mahasiswa untuk aktualisasi diri dengan menuliskan apa-apa yang dilihat selama kerja praktek tersebut. Terus terang sebagai guru, saya sangat bangga jika mahasiswa-mahasiswa yang saya bimbing, bisa dengan mantap menjelaskan bahkan menjawab dengan tuntas setiap pertanyaan yang berkaitan dengan proyek kerja prakteknya. Itu semua dapat menjadi sarana mengevaluasi mahasiswa tentang kesiapan mereka menjadi engineer. Kalau hanya sekedar melihat hasil ujian tertulis-nya saja, saya nggak puas. Engineer khan bukan sekedar saintis, ada seninya juga. Jadi menurut saya, hasil ujian tertulis menunjukkan segi saintis-nya, sedang presentasi oral di depan kelas tentang fakta yang telah mereka terima via indera-nya merupakan petunjuk bagi segi ‘seni’-nya tersebut.
Mahasiswa saya dalam kerja prakteknya tadi berkesempatan melihat dari awal pelaksanaan pondasi tiang bor dan sampai pengujiannya juga.
Lho, koq hanya pondasi. Katanya proyek pak ? Kalau pondasi tiang itu khan baru sebagian kecil dari proyek. Kayaknya kerja praktek mahasiswa Bapak kurang hebat. Kalau saya jadi dosen, maka saya minta mereka (mahasiswa) untuk kerja praktek pada proyek yang besar, misalnya bangunan tinggi, kalau bisa sih di atas 100 lantai. Itu baru yahud ! Gimana pak ?
O gitu ya.
Saya lain ! Terus terang, setiap mahasiswa yang kerja praktek pada saat awalnya akan bertanya kepada saya. Pak, proyek ini boleh nggak ? Kalau yang gini boleh ? Kalau yang itu, gimana ?
Pada prinsipnya saya tidak memberi batasan, ini boleh , ini tidak, dan sebagainya. Saya memberi kebebasan kepada mereka. Proyek apa saja prinsipnya boleh aja, hanya saja saya akan bertanya:” kenapa kamu memilih proyek seperti itu, apa sih menurut kamu keunggulannya, atau adakah sesuatu yang menarik“. Jika mahasiswa yang bersangkutan langsung bisa bersemangat menceritakan apa-apa yang dianggap menarik pada proyek tersebut maka pada prinsipnya saya akan mendukung.
Jadi dari artikel ini saya juga akan menunjukkan bahwa meskipun itu hanya pelaksanaan pondasi tiang bor, tetapi kalau dapat melihat dari sudut pandang yang tepat maka itupun merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga. Ingat bahwa ada engineer yang dapat hidup dari hanya bekerja sebagai pembuat tiang bor saja. Jadi menguasai kompetensi seperti itu saja merupakan bekal yang berharga.
Ok. Setuju ? Jadi saya bisa melanjutkan cerita tentang pelaksanaan pondasi tiang bor !
Ok pak. Saya memang nunggu Bapak bercerita, yang menarik ya Pak !
Pekerjaan pemetaan pada lokasi sebelum alat-alat proyek didirikan.
Excavator mempersiapkan areal proyek agar alat-alat berat yang lain bisa masuk.
Bahkan bila perlu, dipasang juga pelat-pelat baja.
Pekerjaan penulangan pondasi tiang bor.
Lho koq, tulangannya gitu sih pak ?
Lha iya. Emangnya kamu belum tahu gambar detailnya. Baik ini gambar detail strukturnya, biasanya digambarkan seperti ini. Ini fondasi franki yang terkenal itu, yang dibagian bawahnya membesar. Itu khas-nya Franky.
Ada, sampai diameter 1 m lebih, tapi prinsipnya hampir sama koq. O ya, kedalaman pondasi adalah sampai tanah keras (SPT 50) dalam hal ini adalah 17-18 m (lokasi di Bogor).
Jika alat-alat berat sudah siap, juga tulangan-tulangannya, serta pihak ready mix concrete-nya sudah siap, maka dimulailah proses pengeboran. Skema alat-alat bornya adalah.
Gambar diatas bisa menggambarkan secara skematik alat-alat yang digunakan untuk mengebor. Dalam prakteknya, mesin bor-nya terpisah sehingga perlu crane atau excavator tersendiri seperti ini.
Perhatikan mesin bor warna kuning belum dipasangkan dengan mata bornya yang dibawah itu. Saat ini difoto, alat bor sedang mempersiapkan diri untuk memulai.
Jadi pada gambar-gambar nanti, fotonya gabungan dari dua alat tersebut. Jangan bingung ya.
Pengeboran
Ini merupakan proses awal dimulainya pengerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Juga terdapatnya batuan atau material dibawah permukaan tanah. Ini perlu diantisipasi sehingga bisa disediakan metode, dan peralatan yang cocok. Kalau asal ngebor, bisa-bisa mata bor-nya stack di bawah. Biaya itu. Ini contoh mesin bor dan auger dengan berbagai ukuran siap ngebor (bukan inul lho).Cleaning Bucket dan Belling Tools
Akhirnya setelah beberapa lama dan diperkirakan sudah mencapai kedalaman rencana maka perlu dipastikan terlebih dahulu apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi, yaitu melalui pemeriksaan manual.Apabila kedalaman dan juga lubang bor telah ‘siap’, maka selanjutnya adalah penempatan tulangan rebar.
Pengecoran beton :
Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah pengecoran beton. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi. Meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi pada tahapan ini gagal maka gagal pula pondasi tersebut secara keseluruhan.Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak tepat.
Adanya air pada lobang bor menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus, yaitu pipa tremi. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman lubang yang dibor.
Cukup panjang khan. Inilah yang disebut pipa tremi. Foto ini cukup menarik karena bisa mengambil gambar mulai dari ujung bawah sampai ujung atas. Ujung di bagian bawah agak khusus lho, nggak berlubang biasa tetapi ada detail khusus sehingga lumpur tidak masuk kedalam tetapi beton di dalam pipa bisa mendorong keluar. Mau tahu detailnya ?
Yang teronggok di bawah adalah corong beton yang akan dipasang di ujung atas pipa tremi, tempat memasukkan beton segar.
Yang di bawah ini pekerjaan pengecoran pondasi tiang bor di bagian lain, terlihat mesin bor (warna kuning) yang difungsikan crane-nya (mata bor nya nggak dipasang, mesin bor non-aktif).
Posisi sama seperti yang diatas, yaitu pipa tremi siap dimasukkan dalam lobang bor.
Pipa tremi sudah berhasil dimasukkan ke lubang bor. Perhatikan ujung atas yang ditahan sedemikian sehingga posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh. Corong beton dipasang. Pada kondisi pipa seperti ini maka pengecoran beton siap. Truk readymix siap mendekat.
Pada tahap pengecoran pertama kali, truk readymixed dapat menuangkan langsung ke corong pipa tremi seperti kasus di atas. Pada tahap ini, mulailah pengalaman seorang supervisor menentukan.
Kenapa ?
Jangan sepelekan aba-aba seperti di atas. Belum tentu seorang sarjana teknik sipil yang baru lulus dengan IP 4.0 bisa mengangkat tangan ke atas secara tepat. Karena untuk itu perlu pengalaman. Jadi menjadi seorang engineer tidak cukup hanya ijazah sekolah formil, perlu yang lain yaitu pengalaman yang membentuk mental engineer. Jadi jangan sekedar kerja, misalnya jualan MLM gitu, mana bisa jadi engineer yang baik, meskipun duitnya gede (katanya).
Adanya pipa tremi tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan air atau lumpur. Karena BJ beton lebih besar dari BJ lumpur maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Jadi pada tahapan ini tidak perlu takut dengan air atau lumpur sehingga perlu dewatering segala. Gambar foto di atas menunjukkan air / lumpur mulai terdorong ke atas, lubang mulai digantikan dengan beton segar tadi.
Proses pengecoran ini memerlukan supply beton yang continuous, bayangkan saja bila ada keterlambatan beberapa jam. Jika sampai terjadi setting maka pipa treminya bisa tertanam lho dibawah dan nggak bisa dicabut. Sedangkan kalau keburu di cabut maka tiang beton bisa tidak continue. Jadi bagian logistik / pengadaan beton harus memperhatikan itu.
Jika pengerjaan pengecoran dapat berlangsung dengan baik, maka pada akhirnya beton dapat muncul dari kedalaman lobang. Jadi pemasangan tremi mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan maka pipa tremi tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Jadi kondisi tersebut fungsinya sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran dengan lumpur.
Sampai tahap ini pekerjaan tiang bor selesai. Sebenarnya ada hal lain yang mahasiswa saya bisa laporkan yaitu pelaksanaan pengujian beban atau Loading Test 150% kapasitas. Wah menarik lho. Tapi nanti dulu ya pada artikel lain.
O ya ada pertanyaan, casingnya dicabut nggak ya. Mestinya iya ya, khan mahal.
Acknowledgment :
Semua gambar / foto di atas adalah hasil kerja mahasiswa UPH selama kerja praktek di proyek tersebut, yaitu sdr Darwanto dan sdri Mega Primadewi.Suasana sidang Kerja Praktek di Jurusan Teknik Sipil UPH
Atas nama jurusan teknik sipil UPH maupun pribadi, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pimpinan atau pihak-pihak yang memberi kemudahan sehingga mahasiswa saya mendapat pengalaman yang begitu berharga tersebut. Mohon maaf bilamana ada tindak-tanduk mahasiswa saya yang tidak berkenan. Kiranya nanti kepada adik-adik kelas berikutnya dapat diberi bantuan serupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar